--

X3-1" />" />"/> X5" />" />"/> X4" />" />"/> x2-01 /> " />" />"/> X7" />" />"/> " />"/>
1 2 3 4 5

Jumat, 23 Desember 2022

Setahun sudah

Ini sama percis dengan setahun yang lalu, tepat satu tahun yang lalu. Kita memang tidak bisa merayakan tahun baru bersama waktu itu, tapi entah memang tidak bisa atau Dia yang tidak mau. Jadi, 1 minggu sebelum perayaan tahun 2022, kita pergi bersama.

Baju baru, duduk di meja kayu, dan dia datang jauh terlihat dari sana. Di tempat yang sama, ya.. tempat yang sama. Namun semua sudah berubah. Tempat itu menjadi sejarah, karena kita melakukan banyak hal.. dan aku tahu kamu menyadari nya. Tapi entah kenapa, hingga detik ini tak satupun kejadian itu kamu akui, licik dan menyakitkan bagiku. Tapi tak apa, jika memang itu membuatmu bahagia. Aku turuti. Karena pada dasarnya bagiku tingkat tertinggi dari kasih sayang itu adalah bisa melepaskan nya selagi dia bahagia, walaupun disini merasa sakit yang amat sangat. Obat nya pun tak ada. Dan ingin sekali aku berbicara dengannya, hingga detik ini.

hey lihat,  tempat itu kini sudah berubah. Kamu orang yang ku harapkan kehadirannya pada waktu itu bisa memenuhinya. Namun kini.. balas pesan pun seperti berat terlihatnya. Syukur-syukur kau baca.. ini......

Ah sudahlah, hidup ini berat jika kau terus menjadi bayanganku.. 

sana kau pergi dan sembuhkanlah aku.

Jumat, 28 Oktober 2022

After Everything

Malam ini kita kembali bertemu. Dia adalah orang yang pernah membuat ku percaya diri akan hidup ku sendiri. Namun, malam ini tidak.

Dari sakit nya hati yang telah sembuh, baru sembuh. Kini ada luka baru yang kau buat. Lagi.

Teman mu seolah tidak memperkenankan mulut ini saling bicara, bahkan menatapku pun kau segan. Berpaling wajah, seakan ada yang membisiki “awas hati-hati, ada yang mengawasi”.

Pertanyaan mu itu yang membuat ku sakit, teman mu itu terlihat melarang untuk berbicara dekat kepada ku.

Apa arti ini semua ? Apa yang kau ceritakan tentang ku kepada teman-teman mu?

Malam ini begitu buruk, padahal aku sudah menantinya cukup lama.

Terima kasih.

Sabtu, 27 Agustus 2022

Masih

 7 bulan sudah, dan ini amat sangat menyiksa. 7 bulan bukan waktu yang sebentar, hari demi hari terus menempel di otak ini. Kamu yang hilang dengan seenaknya menganggap semua ini sepele.  Mudah untuk berkata malas dan cape, tanpa berfikir bahwa ini semua adalah siksaan rasa yang terus bergelut dengan dinginnya sikap. Harus apa lagi aku berkata, kemana lagi aku mengejar kalo kamu hanya terus menghindar membawa masalah yang terus di kubur, sedangkan aku terus menggali.

Aku pikir kamu sudah menjadi dewasa, tapi ternyata masalah ini terus membuat kamu menjadi kecil lebih kecil dari anak kecil. Coba bicara, aku pikir kita saling percaya. Obrolan dan nasehat kemarin aku kira kamu paham, aku kira itu akan buat kamu jadi lebih dewasa. Atau, kemarin itu kamu hanya buat tipuan agar belas kasihan datang pada mu menguras waktu dan dompet ku saja ?

Coba bicara, mohon. Apa aku harus berlutut ?

Coba lihat, mohon. Aku terus berlari dengan siap atas segala keputusan mu. Pahit atau manis, setidak nya kamu sudah berkata jujur. 

Ingat, aku Masih. Masih terus berlari sampai batas sabar ini di cabut oleh-Nya.